Aku Mati !!!


Sebuah suara yang tak dikenal namun sangat dekat sekali. Keras serasa memecahkan gendang telinga.

“Woi..bangun !!! Apa yang telah engkau lakukan?”

Tergagap, tersentak mendengarnya. Tercekat suara enggan keluar dari kerongkongan.
Aih..aku mau menjawabnya, entah tak sepatah katapun mampu terlantun dalam lisan. Membisu, hanya diri ini yang mampu mendengarnya.

“Aku….” Ada apa dengan bibirku. Tercatut begitu lekat. Seakan terkunci gembok.

Kenapa? Apa yang terjadi? Kucoba melayangkan pandang ke sekeliling. Suram. Gelap. Tak satupun cahaya menerobos masuk. Di mana ini…??? Kembali pertanyaan bergelayutan dalam pikirku, namun tak kutemukan juga muaranya. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi.



Sebelumnya , aku masih duduk depan laptop mengerjakan  Landasan Teori  yang harus selesai karena keesokan harinya bakal bertemu dengan dosen pembimbing.  Lalu, aih…tiba2 pusing menyergap tanpa ampun. MasyaAllah….apakah aku telah mati? Apakah aku telah berpulang ke rahmatullah? Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…inikah tempat persinggahanku sebelum dihisab?

Inikah rumah masa depanku?
Berapa banyak kewajiban Tuhanku yang telah kuperbuat….???
Berapa banyak kelalaianku yang menggunung???
Berapa banyak Amal Salih untuk menghantarkanku ke Syurga???
Berapa banyak maksiat yang bakal menjerumuskanku ke neraka???
Berapa lama aku bersimpuh bersujud mengharap keampunanNya dibandingkan melototin layar lepi?
Berapa banyak hafalan Quran dibanding nasyid Islam?
Berapa banyak aktifitas dakwah dibanding rutinitas diri?
Berapa banyak kebaikan yang ditebarkan dibanding keburukan kepada sesama?
Berapa banyak lisanku menyakiti mereka dibandingkan memperindah kata2 meski menegur untuk kebaikan?
Berapa banyak membaca Quran dibanding Headline news?
Berapa banyak telaah kitab yang di thabani dibanding telaah diktat kuliah?
Berapa banyak  bakti kepada ortu dibandingkan  sering bikin kekecewaan pada mereka?
Masih tersisakah hutang2 di antara manusia di sekitar?
Berapa banyak pula janji2 yang belum tertepati?
Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia?
Lebih banyak mana?

Tapi itu semua hanya mampu berada dalam benak, tanpa bisa kuhisab-hisab lagi. Lebih berat mana timbangannya… Kini semua itu tak mungkin bisa diperbaiki lagi, karena berada dalam ruang serba gelap, dalam kesendirian dan kesunyian, hanya bertemankan sepi.

Dalam terpekurnya diri mencoba mengingat-ingat amalan akhir apakah yang kulakukan… Secebis cahaya menerobos kegelapan. Sinarannya lembut memberi pengharapan. Membukakan mataku yang terpejam. Lembah kegelapan itu seakan sirna seketika. Tak terasa menitis air mata, ketika suara yang tiba-tiba memanggil itu kukenal .

“Leli, sudah sadarkah?”

Mencoba membuka mata…Alhamdulillah sinar mentari melintasi jendela, meski menyilaukan mata tampak begitu indah.

Mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba mencari sosok yang memanggilku. Kaget. Ah, ini masih mimpi ya. Sejak kapan ibu ada di sini.

“Ini ibu nak, Alhamdulillah sudah sadar, selama sebulan engkau terdiam tanpa ada gerak. Hanya detak nadimu, yang mengisyaratkan bahwa ragamu masih berisi.”

Ah..selama itukah aku terlelap, apa yang telah terjadi. Sepertinya Tanya itu masih perlu kusimpan.

Karena Ibu langsung pergi memanggil dokter.

————————————

Kullun nafsin dzaa iqotul maut-tiap yg bernyawa akan merasakan mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s