The Power of LOVE


The Power of Love

Cinta..lagi..lagi ngomongin cinta…😀

Siapa sih yang gak kenal betapa dahsyat kekuatan cinta, dari karya Shakespeare yang terkenal berkisah tentang Romeo n Juliet, ataukah dari Kisah tentang Laela Majnun, kisah tenar Sinta dan Rama, atau kisah roman Sampe – Eng Thai, ato jaman sastra di negeri kita tentang Siti Nurbaya, en yang paling anget tuh Ayat-ayat Cinta…wuih…seabrek, gak bakalan selesai2 neh kalo ngomongin kisah2 roman.


Tapi, melihat dari kesamaan cerita roman tersebut (loh..katanya gak ngomongin kisah roman, koq di bahas she..ckckckck..gak konsisten-sabar sis n bro,baca lanjutannya..jangan buru2 nge-judge… :D). Terdapat pengorbanan yang sungguh luar biasa dengan kekuatan cinta. Padahal cinta tuh gak melulu cinta antara laki-laki dan perempuan.

Cinta seorang ibu kepada anaknya, hingga mampu merelakan apapun demi kebahagiaan anaknya. Namun, kini lebih banyaknya cinta itu sirna terkalahkan syahwat semata. Ibu tak lagi berkeinginan terhadap bayinya, bahkan lebih jahiliyah. Ibu tak bertanggung jawab berzina, lalu membunuh calon bayi sebelum terlahir ke dunia. Apakah ini cinta? Cinta itu telah sirna…

Jika kekuatan cinta, mampu membuat Bilal bin Rabbah bertahan dalam sengatan terik mentari dan pedihnya sayatan lecutan cambuk yang ditindih tubuhnya dengan bongkahan batu. Namun tak mengalahkan cinta-Nya pada Rabbul Izzati, tetap menyerukan “Ahad, Ahad, Ahad”. Yah, kalimat cinta itu terus mengalir dari lisannya, mengalahkan kepedihan yang dirasakannya.

Jika kekuatan cinta, mampu menjadikan si Kecil Ali bin Abi Thalib rela menggantikan posisi tidur Rasulullah SAW yang sedang dalam kepungan kaum Quraisy. Tak sedikitpun nyalinya ciut, meski menyadari bahwasanya nyawanya terancam, sewaktu-waktu terbunuh karena dikira kaum Quraisy adalah Rasulullah SAW yang sedang berada dalam pembaringan. Lagi-lagi kekuatan cinta yang membuncah mengalahkan ketakutan akan akibat yang bakal dialaminya.

Jika kekuatan cinta, mampu membuat Abdurrahman bin ‘Auf, Sang Saudagar kaya raya meninggalkan Mekkah demi berhijrah ke kota Madinah. Meninggalkan segala harta benda yang dimilikinya. Tak khawatir bakal miskin dan memulai dari nol lagi atas usaha yang dimilikinya.Dan inipula kekuatan cinta yang mengalahkan kekahwatiran atas konsekuensi yang bakal dialaminya di dunia.

Jika kekuatan cinta, mampu mengalahkan kecintaan terhadap Ibunda tersayang yang melawan Islam. Serta siap hidup papa tanpa adanya segala kemewahan yang dimilikinya. Itulah cinta Mushab bin Umair. Pemuda kaya raya yang banyak menjadi buah bibir di kalangan kaum Quraisy. Namun, kekuatan cinta telah mampu menjadikannya orang biasa diterima dengan suka cita.

Jika kekuatan cinta, mampu mengalahkan terhadap kecintaan terhadap Ayah yang mungkar terhadap Rabb-Nya. Menghancurkan segala bentuk kemungkaran. Itulah cinta Nabi Ibrahim as, yang tak mengikuti ajaran ayahnya sebagai pemahat berhala.

Jika kekuatan cinta, mampu mengalahkan kecintaan terhadap anak yang disayanginya demi ketundukan kepada Syariat Islam. Itulah cinta Nabi Nuh as, terhadap Kan’an, anak yang mungkar terhadap Allah.
Jika kekuatan cinta, mampu mengalahkan kecintaan terhadap istri yang dicintainya. Itulah cinta Nabi Luth, mengalahkan cinta kepada istrinya yang tidak patuh padanya juga perintah Allah.

Jika kekuatan cinta, mampu mengalahkan kecintaan terhadap suami yang ingkar kepada Allah. Itulah cinta Asiyah, istri Fir’aun. Yang lebih memilih atas ketauhidan kepada Allah.

Jika kekuatan cinta, menguatkan para pecintanya di atas segala cintanya. Itulah cinta Siti Masyitoh, pelayan fir’aun yang tetap akan keteguhan keimananan, meski siksaan mendera dirinya dan bayinya yang dimasukkan dalam kuali berisi air mendidih di hadapan dirinya. Tak sedikitpun surut cinta itu.

Jika kekuatan cinta, menjadikan segala intimidasi dan penyiksaan terhadap pecintanya tak membuat para pecinta surut. Namun semakin bertambah, itulah cinta Sumayyah dan keluarganya. Syahidah pertama di Islam. Cinta itu pula yang meneguhkan Zinnirah, sang budak tetap teguh meski rela kehilangan kedua matanya.

Jika kekuatan cinta, mampu meluluhkan kegarangan Umar Al Faruq, menjadikannya lembut di hadapan kaum muslim.

Jika kekuatan cinta, mampu membuat Muhammad Al Fatih yang meyakini bisyarah Rasulullah atas tertaklukan Konstantinopel. Itulah cinta.

Jika kekuatan cinta, mampu menundukan manusia patuh dan taat terhadap segala perintah Allah serta menjauhi segala larangannya.

Jika kekuatan cinta, mampu menjadikan para pengemban dakwah rela melakukan apapun hanya demi Islam, rela berkorbankan harta, pikiran, bahkan nyawa. Siap untuk tidak bersama orang-orang yang dicintainya demi mengemban amanah dakwah Islam ke segala penjuru dunia. Itulah kecintaan sejati terhadap Rabbul Izzati, terhadap Rasulullah SAW, serta kecintaan terhadap apa-apa berlandaskan kecintaan terhadap ALLAH.
Subhanallah….. ^^

#tahukah betapa cintaNya Allah terhadap hambaNya, lantas mengapa begitu mudah berpaling dari cintaNya, hanya karena cinta sesaat. Bagaimana diri ini bisa melalaikan cinta-Nya, jika setiap hela nafas yang terhembus adalah karuniaNya, jika setiap rejeki adalah anugerahNya, dan jika cinta inipun fitrah dariNya…. ALLAHU AKBAR !!!

@Da’I 6.40/14022012
@di kala menantikan berita yang gak kunjung tiba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s