Valentine’s Day; Penumpang Gelap Peradaban


by Toekangritik Belumusnah

Dunia sering diibaratkan global village alias sebuah desa global, itu karena begitu mudah dan terjangkaunya akses komunikasi, transportasi antar tempat yang terjauh di planet bumi ini. Berangkat dari situ, maka wajar sekali jika kemudian mulai dari cara dandan, cara berjalan, cara makan, cara tidur orang Barat nun jauh disana, bisa tertransfer dengan gampang ke negeri kita.

Maka ketika berbicara globalisasi berarti bicara bersentuhannya antara Barat dan Timur. Persoalan seriusnya, persentuhan Barat dan Timur bukan hanya cara dan gaya tapi juga persoalan ‘nilai’. Sehingga dalam standar ‘positif-negatif’ pun, kita sudah tertular cara Barat menilai hal positif-negatif. Alias cara ukur kita terhadap suatu perbuatan itu baik atau buruk, sama dengan Barat mengukur baik-buruk, terpuji-tercela, dan seterusnya.

Kita bisa lihat faktanya, perempuan goyang ngebor, ngesot, patah-patah, di negeri ini sudah dianggap biasa, karena itu katanya bagian dari ekspresi, seni, bahkan dikaitkan sebagai mata pencaharian. Demikian pula wajib dianggap lumrah juga, kalau ada artis selingkuh, wakil rakyat punya WIL, sementara seseorang yang bener-benar nikah secara syah, malah harus dipersoalkan. Itu semua -kalo pinjam istilah pak Amin Rais- akibat westoxitation alias peracunan barat, melalui paham yang disebut sekularisme.

Satu lagi, sebuah budaya yang membonceng globalisasi dan ramai diperbicangkan di bulan Februari, dialah Valentine’s Day (selanjutnya disingkat VD). Masyarakat kita sudah memaklumi budaya VD sebagai bagian dari globalisasi yang ‘katanya’ bernilai universal. Padahal VD tak lebih dari program Baratisasi khususnya liberalisme yang menuju pada kehidupan permisive. Sangat kentara liberalnya, kalau kita mencoba berpikir kompleksitas masalah VD. Artinya VD tidak berdiri sendiri sebagai sebuah perayaan. Melainkan dia bagian dari peradaban sebuah kaum, bangsa atau agama tertentu.

Di Barat menyebut istilah peradaban dengan civilization; di ambil dari kata civilis, yang artinya memiliki kewarganegaraan. Istilah ini menurut Samuel Hutington dalam bukunya Clash of Civilization, tidak terlepas dari upaya Barat menemukan jati diri sebagai negara sekular, dengan apa yang mereka sebut dengan massa renaissance.

Mengutip dari tesis Huntington, bahwa orang-orang dari peradaban yang berbeda akan memiliki perbedaan mendasar dalam hal hubungan antara Tuhan dengan manusia, individu dengan masyarakat, negara dengan rakyatnya, anak dengan orang tuanya, suami dengan istri, sebagaimana juga perbedaan persepsi tentang hak dan kewajiban, kebebasan dan otoritas. Prinsip atau asas sekularisme yang diajarkan Barat, jelas bertolak belakang dengan prinsip Islam yang justu menyatukan antara ajaran agama dengan kehidupan. Karena Islam ketika dipelajari bersifat amaliah alias untuk diterapkan bukan sekedar ilmiah atau kepuasan intelektual aja.

An-Nabhani dalam bukunya Nizhâm al-Islâm. menjelaskan peradaban (arab: hadhârah) adalah sekumpulan persepsi atau pemahaman yang membangun perilaku seseorang atau suatu bangsa dalam mengarungi kehidupan. Masih menurut An-Nabhani, beliau merekatkan pembahasan hadlarah dengan satu bahasan yakni madaniyah. Karena menurut beliau, kerancuan bahasan antara keduanya (hadlarah dan madaniyah) inilah yang menyebabkan orang misunderstanding terhadap Islam.

Muhammad Husein Abdullah dalam bukunya Mafahim Islam, membedakan antara madaniyah khusus dan madaniyah umum. Madaniyah khusus, itu artinya benda-benda tersebut sudah dimasuki atau merupakan hasil atau dimiliki oleh peradaban kaum tertentu, contohnya salib yang merupakan madaniyah orang Kristen. Sementara madaniyah umum, berarti benda-benda umum yang murni dihasilkan dari kecanggihan teknologi dan bukan ‘hak milik’ dari hadlarah kaum atau bangsa tertentu.

Sedangkan menurut Hafidz Abdurahman dalam buku Diskursus Islam, Politik dan Spiritual, beliau menjelaskan bahwa Islam merupakan suatu ajaran yang mencakup konsep spiritual dan politik (siyasiyah) dimana Islam memiliki persepsi yang khas tentang kehidupan, yaitu bahwa segmen kehidupan publik nggak bisa dipisahkan dari ajaran agama. Sehingga aspek politik, ekonomi, pemerintahan, pergaulan, hubungan luar negeri, dsb. diatur oleh wahyu Allah SWT (Syariat Islam), dan tidak diizinkan bagi manusia untuk membuat sistem kehidupan dengan tidak dilandasi oleh wahyu. Pandangan inilah yang membentuk peradaban khas, yaitu peradaban Islam.

Perbedaan secara diametral antara peradaban Barat dengan Islam inilah yang bisa mencuat menjadi suatu konflik antarperadaban di dalam masyarakat internasional. Dengan demikian, benturan peradaban hakikatnya adalah benturan yang terjadi antara sejumlah pemikiran dan atau ideologi yang berbeda atau bertolak belakang. Disinilah menjadi sebuah keniscayaan terjadinya perang peradaban, yang orang biasanya sering menyebut perang pemikiran (ghazwul fikri) dan perang budaya (ghazwul tsaqofi) antara Barat Vs Islam.

Kemudian Barat menjadikan VD sebagai alat serang, untuk memasukkan -kalau tidak bisa dikatakan memaksa- budaya, tsaqofah, perilaku Barat ke negeri-negeri kaum muslim. Gaya hidup konsumtif, materialis, liberalis, hedonis, dan kepermisifan nilai-nilai seksual, yang lazim ditemukan dalam perayaan VD, coba ditransfer ke negeri kaum muslimin dengan membonceng globalisasi. Dan ironisnya, rakyat negeri-negeri muslim mencoba menutupi, membela hingga mencari dalil legalisasi VD untuk umat muslim.

Penjajahan Itu Masih Ada

Penjajahan Barat dengan berkedok globalisasi telah membonceng VD. Perang antar peradaban Islam VS Barat dalam VD sangat kentara skenarionya. Skenario itu setidaknya bisa digolongkan menjadi 3.

Pertama: Skenario ekonomi. V-Day bisa dikatakan memenangi pergulatan opini di tengah pergaulan khususnya remaja karena ada 3 P: promosi, provokasi, dan propaganda. Gambarannya seperti sebuah produk yang diiklankan di televisi, yang ditayangkan secara kontinyu, terencana, termenej dengan sangat baik, bahkan kalau perlu memanipulasi fakta, menipu data, akan mereka lakukan, asal produknya bisa laku dipasaran. Konsumen awalnya mungkin terjadi ambigu alias penolakan secara halus, tapi karena di iklankan tiap jam, di sisi lain diberi kemudahan cara menikmatinya, maka akhirnya orang jadi tertarik untuk mencobanya. Keinginan mencobanya semakin kuat, ketika banyak orang yang ikut menikmatinya. Walhasil, VD menjadi suatu yang lumrah untuk ditiru, sementara masalah moral dan agama, tidak lagi jadi pertimbangan.

Kedua: Skenario politis. Skenario ini akan mudah dibaca ketika perayaan V-Day dikaitkan dengan kampanye kondomisasi, seperti apa yang sudah dilakukan di Inggris. Di negara Barat, selebrasi VD tidak lepas dari seks pranikah. Di Inggris, pekan Valentine dijadikan bagian dari kampanye penggunaan alat kontrasepsi; kondom. Karena begitu tingginya aktivitas seks pranikah pada saat itu. Tapi supaya tetep terkesan romantis, di’bungkus’lah oleh coklat dan setangkai mawar. Di AS dan beberapa negara Barat, menjadikan VD sebagai prolog bagi sebuah kencan (blind date) dari suatu hubungan yang serius. Ini karena memang VD pada awalnya didedikasikan untuk arena kenalan dengan lawan jenis. Kalau cocok bisa dilanjutkan dengan kencan mulai dari makan berdua, sampai dengan berzina. Dan di negeri ini sudah di copy-paste, dengan kampanye kondomisasi yang dibungkus dengan kata manis “safe sex” alias sex yang aman, yang biasanya dilakukan oleh LSM.

Ketiga: Skenario budaya. Bagi para pembela dan pengikut VD, selalu mencari alasan agar budaya bejat itu menjadi legal. Sebagian mereka setuju, jika perayaan VD ‘versi Barat’ jangan ditiru oleh kita yang mempunyai budaya Timur. Tapi mereka tetap menolak, jika VD semata-mata budaya Barat, karena melihat makna aslinya yang katanya sebagai hari kasih sayang. Intinya, kelompok ini setuju VD, tapi tidak setuju dengan budaya free seks didalamnya. Inilah bentuk keberhasilan Barat dalam menanamkan sekularisme, memisahkan Islam dalam pembahasan kehidupan, dan juga kerancuan berpikir (standar) baik-buruk, benar-salah, dan seterusnya.

Belajar dari skenario-skenario diatas, maka fenomena berikutnya, masyarakat kita sangat sulit untuk tidak terjebak lubang biawak VD. Betapa derasnya serangan Barat kepada generasi kita, sementara generasi kita tidak menyiapkan tameng untuk membendungnya. Ketika melihat banyak teman remaja yang merayakan VD, maka remaja lain pun ingin mencobanya.

Melihat Dengan Terang

VD telah memakan banyak korban, kita tertipu di balik gemerlapnya VD yang telah menikam perasaan dan pikiran sehat kita. Dan kita menjadi liar dalam mewujudkan kasih sayang. Hati-hati, jangan sampai celaan Nabi kita dialamatkan kepada kita melalui sabdanya: “Siapa saja yang menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istiadatnya), maka mereka termasuk golongan tersebut.” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).

VD merupakan perayaan yang bukan berasal dari Islam. Rasulullah Saw, dengan tegas memperingatkan kita agar jangan mengikuti pola hidup (budaya) kaum atau bangsa lain, sebagaimana sabdanya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi selangkah, sehasta demi sehasta.” Di antara saha­bat ada yang bertanya: “(Ya Rasulullah) apakah yang dimaksud (di sini) seperti bangsa Persia dan Romawi?” Rasulullah saw menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)” (HR. Bukhori, dari Abu Hurairah).

Makanya, benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab bahwa al ilmu qobla al amal, artinya bahwa ilmu itu musti ada sebelum perbuatan. Dengan demikian, sebelum kita tahu status hukum suatu perbuatan, tidak boleh melakukan perbuatan tersebut. Jadi, segala sesuatunya harus jelas. Tidak boleh samar, dan harus tahu status hukum perbuatan yang bersangkutan.

Allah SWT di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

VD sebenarnya adalah sebagai alat penjajahan Barat. Dia telah berhasil merusak tatanan masyarakat timur apalagi Islam, mengikuti Valentine bukan saja sekedar pesta untuk menyatakan kasih sayang, tetapi juga pesta yang mau-tidak-mau harus mengikutkan budaya yang lainnya, pergaulan bebas, fashion, pakaian minim, hidup glamour, materialistis, dansa-dansa, mengumbar nafsu dan lain-lain.

Hantaman budaya barat berupa VD, semakin tidak bisa kita tahan, karena ternyata institusi negara kita memfasilitasi. Buktinya, pemerintah telah membuatkan ATM kondom. Padahal kita tahu, alat kontrasepsi kondom dipakai untuk berzina dan zina itu sendiri dalam Islam jelas keharamannya.

Fasilitas diatas secara langsung atau tidak, memudahkan untuk menikmati perayaan VD. Maka, tegurlah diri ini dengan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imron 149)

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s