Anti Vidi, Bukan Basa-Basi!


by Guslaeni Hafidz

Gemerlap perayaan hari kasih sayang, nggak lengkap tanpa kehadiran pernak-pernik yang unik bin ciamik. Mulai dari balon bentuk hati hingga sekotak coklat berbalut pita merah jambu. Para aktivis VD terkadang nggak ambil pusing dengan simbol-simbol pelengkap VD. Mereka cuman ikut-ikutan doang ngeramein hari cinta sedunia. Padahal, dibalik simbol-simbol cinta itu ada nilai hidup nyeleneh dan keyakinan lain yang dijajakan. Lets cekidot!


Cupid. Cupid adalah salah satu Dewa yang dipuja oleh bangsa Romawi Kuno. Cupid dalam bahasa inggris bisa berarti The Desire atau yang berarti hasrat, nafsu atau syahwat. Cupid sering digambarkan sebagai sosok bayi topless-bottomless alias naked yang rupawan, bersayap dengan panah di tangannya. Sosok gambar dewa imut dengan perilaku yang amit-amit ini banyak menghiasi kartu ucapan VD atau berwujud boneka yang dipajang dalam etalase. Dalam kepercayaan bangsa Roman, Cupid merupakan anak dari Nimrod Dewa Matahari (Raja Namrudz) dengan Dewi Aphrodite, Sang Dewi Kecantikan yang popular dengan sebutan Dewi Venus. Cupid atau yang biasa juga disebut Eros ini dianggap sebagai Dewa atau Tuhan Cinta. Bahkan dalam mitologi tentangnya diceritakan, ibu kandungnya pun tertarik secara seksual dengannya sehingga berzina (incest) dengan anaknya sendiri. Idih, najis tralala-trilili deh!
Kartu ucapan be my valentine. Ucapan ”Be My Valentine” menurut penjelasan Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala alias syirik. Padahal dalam Islam, Allah swt nggak akan mengampuni dosa syirik. Nah lho!
Coklat. Suku Aztecs menganggap coklat sebagai makanan pembangkit gairah para anggota kerajaan. Suku Maya mengaitkan coklat dengan dewa kesuburan. Dan di abad modern, coklat makin lengket dengan ungkapan cinta. Apalagi di hari valentine. Jor-joran dah pada ngasih kado coklat untuk pujaan hati. Coklat dikenal sebagai makanan cinta lantaran memiliki tekstur yang lembut dan akan lumer secara perlahan saat dikulum dalam mulut. Ini memberikan kesan sensual bagi orang yang memakannya. Selain itu, coklat dapat memberikan efek nyaman, rileks dan dapat meningkatkan gairah seksual. Karena secara ilmiah, coklat mengandung zat kimia phenylethylamine dan serotonin. Phenylethylamine berfungsi membantu penyerapan dalam otak dan menghasilkan dopamine yang akan menyebabkan perasaan gembira, meningkatkan rasa tertarik dan dapat menimbulkan perasaan jatuh cinta. Sementara serotonin di otak yang selanjutnya akan memicu perasaan nyaman seseorang.
Mawar merah dan hati. Menurut kepercayaan kuno, hati adalah sumber dari berbagai macam emosi. Kemudian hati dikaitkan hanya dengan emosi cinta. Sementara bunga mawar merah ini dipercaya sebagai bunga kegemaran dewi Venus, dewi cinta Romawi. Selain itu, merah merupakan warna yang melambangkan perasaan yang kuat. Maka, sudah menjadi tradisi di hari valentine untuk memberikan bunga mawar merah pada orang yang disayangi.
Seks. Ini dikemukakan oleh dr Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. “Sekarang Valentine’s Day nuansanya cenderung romantis dan erotis,” tutur dr Andik. Ini bukan omong kosong lho. Salah satu faktor yang mensukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas Valentine`s Day berupa coklat. Emang kenapa dengan coklat? Menurut dr Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual. Nah lho. Ternyata eh ternyata…Bukti lain, lanjutnya, pergeseran makna Valentine‘s Day, di Inggris 14 Februari malah dicanangkan sebagai The National Impotence Day (hari impoten nasional) dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sedang di AS lebih parah lagi. 14 Februari ditetapkan sebagai The National Condom Week (pekan kondom nasional). “Maksudnya kampanye nasional penggunaan kondom, karena tiap perayaan Valentine‘s Day diikuti peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen,” imbuh dr. Andik. Bagaimana di dalam negeri? dr Andik menuturkan, tiga tahun lalu ia diundang sebuah hotel berbintang di Surabaya menghadiri pesta Valentine‘s. Bonusnya undangan boleh check in sehari bersama pasangannya dengan jaminan tak dicek identitasnya (suami istri atau bukan). (www.beritakesehatan.com, Rabu, 14/02/2001)

D’Riser!, jelas banget kalo simbol-simbol cinta diatas menguatkan kampanye budaya jahiliyah dalam setiap perayaan valentine days selain bikin ‘tongpes’ lantaran mendadak konsumtif untuk beli kado VD spesial. Kebangetan kalo kita sebagai muslim yang mulia, masih ikut ambil bagian dalam hajatan syahwat sedunia itu. Jadi, sangat beralasan kalo kita ikut kampanyekan, “Anti ViDi, Bukan Basa-Basi![341]

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s