Sa’id bin Musayyab


Para Alim ulama ternyata tidak berdiam diri saja semasa terjadinya Kezaliman yang dilakukan oleh penguasa. Yang terdekat dengan masa setelah Khulafaur Rasyidin, ada seorang ulama bernama Sa’id bin Musayyab. Beliau selalu menghadiri majelis guru besar ahli Hadits, Abu Hurairah. Bahkan rela menjadi menantunya, demi beroleh keinginan untuk lebih banyak menghafal hadits Rasulullah SAW.

Beliau dikenal diantara para sahabat dan tabi’in sebagai sosok yang memiliki keilmuan yang luar biasa di masa usianya yang relatif muda, memiliki daya hafal yang tinggi. Sehingga mampu untuk menguasai seluruh ilmu yang beliau terima.


Abdullah bin Umar ketika disodorkan sebuah permasalahan maka akan menyampaiakn ,”Tanyakan masalah ini pada Sa’id, karena dia banyak belajar dari orang-orang shaleh”.

Sa’id bin Musayyab adalah Imam yang selalu menjadi tempat rujukan. Imam Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal dan para murid Imam Abu Hanifah selalu menyebutkan pendapat2 beliau dan dijadikan fatwa yg dikutip darinya sebagai dalil penguat.

Murid-murid beliau adalah Umar bin Abdul Aziz, Muhammad bin Syihab, Amr bin Dinar, Atha bin Rabbah, Muhammad al-Baqir dan Yahya bin Said, yang tak lain adalah tokoh2 besar. Mereka takkan menjadi tokoh besar melainkan dari seorang ahli fiqh besar pula, yaitu Imam Sa’id bin Musayyab.

Pada masa Bani Umayyah-saat beliau masih hidup-merupakan masa penuh dengan penindasan dan intimidasi. Para penguasa banyak yang menyimpang dari apa yang dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin. Mereka kebanyakan menggunakan uang,kedudukan dan kemewahan untuk memperoleh dukungan dan simpati. Mereka melihat bahwa Sa’id memiliki banyak pengikut, sehingga mereka berkeinginan Sa’id menjadi pendukung mereka, agar mengokohkan kesewenang-wenangan dan kedzaliman para penguasa. Namun, Allah masih menjaga Sa’id dengan derajat kemuliaaan ketaqwaan kepada Allah, sehinga menolak mentah-mentah tawaran tersebut.

Bahkan, saat Khalifah ‘Abdul Malik, bermaksud meminang putri Sa’id untuk putra mahkotanya, berharap dengan menjadikannya besan, maka akan berolah dukungan dari Sa’id. Tahukah apakah yang dilakukan Sa’id?

Beliau MENOLAK, bahkan menikahkan putrinya dengan salah seorang muridnya yang fakir, yang tidak memiliki harta selain yang dimakan waktu itu. Subhanallah…
Telah banyak pula yang menceritakan tentang ketaqwaan, ibadah dan kesederhanaan beliau. Tak pernah
meninggalkan shalat berjama’ah selama empat puluh tahun. Puasa ialah kebiasaannya.
Ketika di Madinah, terjadi perseteruan yang memuncak antara Bani Umayyah dan golongan Abdullah bin Zubair. Kedua golongan tersebut berebut untuk menarik empati dari Sa’id. Namun, ketetapan dan keteguhan imana dalam hatinya yang telah menguatkannya

Beliau menilai bahwa Khilafah Islamiyah pada waktu itu telah menyimpang dari manhaj kenabiaan yang diketahuinya pada masa Umar dan Ali. Meskipun demikian, kedua golongan itu terus menerus mendatanginya untuk meminta dukungannya. Maka beliau tetap kekeh memegang kebenaran. Hal ini membuat para penguasa gusar atas pertentangan beliau.

Sehingga beliau tak henti-hentinya mendapatkan siksaan yang pedih dari kedua golongan itu.
Meskipun berganti-ganti siksaan diterimanya, tak menggoyahkan langkahnya untuk terus menentang segala bentuk kedzaliman penguasa. Jiwanya senantiasa merasakan kedamaian dan keimanannya merasakan kenikmatan ditengah pedihnya siksaan.

Pernah ketika beliau diminta untuk membai’at seorang pejabat di Madinah yang diangkat oleh Abdul Malik, maka beliau menolaknya dan mendapat ancaman hukuman berupa penggal leher.Ancaman ini tak mampu menyurutkan kegigihan beliau.

Hingga beliau dihadapkan pada 3 opsi yang harus dia pilih:
1. Gubernur membacakan surat bai’at untuk disetujui segenap manusia, tetapi Sa’id diam, tidak mengatakan IYA atau TIDAK.
2. Harus berdiam di rumah dan tidak boleh pergi ke masjid selama beberapa hari hhingga berakhirnya bai’at.
3. Haus pindah dari tempat pengajiannya di masjid, hingga utusan Khalifah tidak lagi menemukannya saat dia datang ke masjid.

Namun, tak satupun option tersebut beliau pilih. Karena beliau memposisikan diri sebagai Pemuka Agama yang menjadi panutan kaum muslimin. Alasan yang beliau kemukakan:
Jika Opsi pertama dipilih, maka ketika beliau diam saja saat pembai’atkan, dikhawatirkan menimbulkan kesan beiau sepakat dengan pembai’atan. Meski sejatinya tidak demikian.
Jika Opsi kedua dipilih, ketika berdiam di rumah secara berlebihan, hingga tak bisa mendatangi panggilan sholat di masjid , meski Adzan berkumandang dan telah memanggilnya.
Jika Opsi terakhir dipilih, maka dikhawatirkan kepindahannya hanya menimbulkan rasa takut kepada makhluk yang tak sekalipun mendatangkan kemashlahatan atau kemudharatan.

Setiap kali beliau menyatakan pertentangannya, beliau mendapatkan siksaan pedih, ditelanjangi dan dicambuki sebanyak 50x cambukan, yang dilihat oleh banyak masyarakat di Pasar Kota Madinah.
ketika terlontar ucapan menghinakan beliau, beliaupun menjawab “Tidak! Justru kami telah lari menjauh dari kehinaan di hari kiamat dengan sebab apa yang mereka lakukan dan yang kami lakukan sekarang.”
Penderitaan tak berhenti sampai disitu, berbagai macam ujian dilontarkan para penguasa Zalim kepada beliau. Derasnya ujian tak pernah membuatnya merasa takut. Hingga akhirnya para penguasa Zalim dibuat tak berdaya olehnya.

Semakin kesewenang-wenangan dilimpahkan kepada beliau, semakin banyaklah dukungan terhadap beliau, bertambah pengaruh, kharisma dan reputasi beliau di hadapan masyarakat. sehingga semakin banyak yang simpati dan empati terhadap beliau.
Hal ini dirasakan oleh Bani Marwan(Ayah Abdul Malik), sehingga mereka memohon kepada Sa’id agar mengampuni dan meridhoi kepemimpinan mereka. Sa’id tidak merespon permohonan tersebut.
Para Khalifah keturunan Marwan senantiasa meminta restunya, namun tak pernah membuahkan hasil. Sa’id pun pernah mendapatkan penawaran harta dar baitul Mal dalam jumlah yang sangat besar 30.000 dirham, namun dengan tegas beliau tetap menolaknya.
“Aku tidak butuh terhadap hak yang diperoleh secara Zalim.”
Seorang bertanya,”Apakah engkau tidak khawatir dengan keselamatan jiwamu?”
Beliau menjawab,”Diamlah, wahai orang bodoh! Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan aku”
Inilah sosok seorang Ulama ditengah kondisi kedzaliman penguasa pada masa Kekhilafahan Islamiyah.
Keimana yang kuat, keberaniannya mengungkapkan kebenaran dan pribadinya yang bersih, luhur dan penuh suri teladan, semua itu menghantarkan pada sosok Sa’id yang mulia dan berkharisma.
Semasa hidupnya, beliau memiliki kekuatan yang ditakuti dan disegani.
Setelah beliau wafat, mewariskan suri teladan yang patut di teladani bagi jiwa-jiwa yang mengusung nilai-nilai kebenaran.
Kesabaran yang dimilikinya senantiasa dirindukan oleh hati yang bersih dan didambakan oleh generasi-generasi suci.

Semoga kita, mampu meneladani keteladanan beliau dalam menghadapi kedzaliman penguasa saat ini. Sekalipun nyawa harus dipertaruhkan, namun SYURGA ALLAH adalah janji yang pasti.
Tetaplah memperjuangkan SYARI’AH dan KHILAFAH hingga kemenangan itu kita raih, ataukah Syahid menjadi takdir kita.
ALLAHU AKBAR!!!

sumber: Kisah Para Ulama

@Da’i 21-10-2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s